PIK-R


Dalam keseharian kita, tanpa disadari, stereotip gender masih kerap muncul dan mempengaruhi cara pandang kita terhadap diri sendiri dan orang lain. Menurut Murniati dalam (Rahmadhani, 2020) stereotip gender muncul dari adanya pemikiran secara psikologi akibat perbedaan seks perempuan dan laki-laki. Meski sudah banyak perubahan dalam masyarakat modern, stereotip ini masih terus ada dan berkembang menjadi batasan yang tak terlihat, khususnya bagi remaja yang sedang dalam proses mencari jati diri.
Stereotip Gender yang Masih Eksis
Meskipun berbagai macam upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesetaraan gender terus dilakukan, nyatanya masalah ini belum juga usang. Tanpa disadari pemikiran bahwa laki-laki harus berani dan tidak boleh cengeng didaulat sebagai karakteristik yang harus dimiliki pria yang kuat, agar tidak dicap lemah. Sebaliknya, kelemahan diasosiasikan sebagai karakteristik perempuan. Sehingga apabila salah satu karakter melekat pada konsep yang lain dianggap menyimpang.
Padahal, realitanya tidak sehitam-putih itu bukan?
Dampak Stereotip Gender pada Remaja
Bagi remaja, tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial berdasarkan gender dapat menyebabkan berbagai masalah. Beberapa dampak yang sering dialami remaja antara lain:
1. Rendahnya Rasa Percaya Diri: Remaja yang merasa tidak sesuai dengan stereotip gender mungkin merasa tidak berharga atau tidak cukup baik.
2. Stress dan Depresi: Tekanan untuk menyesuaikan diri dengan harapan sosial yang monoton dapat menyebabkan stress atau bahkan depresi.
3. Keterbatasan Potensi dalam Karir: Pemberian stereotip yang bahkan sampai pada jenis tugas-tugas dan bidang keahlian guru dalam dunia pendidikan tidak dapat dipungkiri masih banyak terjadi sehingga dapat mengubur potensi diri yang dimiliki.
Menciptakan Kesetaraan Gender: Langkah-Langkah yang Bisa Diambil
Menghapus stereotip gender bukanlah pekerjaan mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk menciptakan kesetaraan gender, terutama bagi remaja:
1. Pendidikan Inklusif: Sekolah memiliki peran penting dalam mengajarkan kesetaraan gender. Mengintegrasikan materi tentang gender dalam kurikulum dan mendukung kegiatan ekstrakurikuler yang tidak memandang gender bisa menjadi awal yang baik.
2. Kesadaran Masyarakat: Kampanye dan diskusi yang mengangkat isu kesetaraan gender bisa membantu mengubah pandangan masyarakat. Media massa juga berperan besar dalam menyebarkan pesan-pesan positif.
3. Dukungan Keluarga: Keluarga adalah lingkungan terdekat yang dapat memberikan dukungan tanpa syarat. Orang tua bisa menjadi contoh dengan membagi peran secara adil dan mendukung anak-anak mereka untuk mengejar apa pun yang mereka minati, tanpa memandang gender.
4. Kebijakan dan Regulasi: Pemerintah dan institusi harus membuat kebijakan yang mendukung kesetaraan gender. Undang-undang anti-diskriminasi dan program pemberdayaan perempuan merupakan langkah penting.
Mengubah Batasan Menjadi Bebasan
Ketika kita berhasil mengikis stereotip gender, kita memberi kebebasan pada setiap individu untuk menjadi diri mereka sendiri. Tidak ada lagi batasan yang menghalangi mereka untuk mengejar impian dan mengembangkan potensi mereka. Dengan begitu, kita dapat membangun masyarakat yang lebih adil dan inklusif, di mana setiap orang dihargai karena siapa mereka, bukan karena apa yang diharapkan dari mereka berdasarkan gender. Setiap langkah kecil menuju kesetaraan gender adalah langkah besar menuju masa depan yang lebih cerah.
Sumber
A Anindya – Jurnal Ranah Komunikasi, 2018
Sulistyowati Y – Indonesian Journal of Gender Studies, 2020
GA Rahmadhani – Jurnal Sains Komunikasi, 2020
